Andi menilai ada proses pembiaran suporter tetap bentrok, agar mereka tak lagi kritis terhadap isu sepakbola.
Misi revolusi di tubuh PSSI, sejatinya bisa dilaksanakan dengan baik. Semua pihak bisa turut andil dalam mewujudkannya. Namun, suporter diyakini punya peran yang cukup kuat untuk mengubah wajah sepakbola kita jamak dengan kasus suap.Mantan pemain timnas Indonesia, Rocky Putiray yang hadir sebagai narasumber dalam diskusi "Revolusi PSSI Menuju Sepakbola Bersih" di Terminal Futsal, Jalan DR Mansyur, Rabu (22/6) siang, memaparkan, sebagai pemain, dia mengaku menyaksikan bagaimana praktik suap itu dijalankan di Liga Indonesia.
Dia mengurai saat berkostum Persijatim beberapa tahun lalu, dia diiming-imingi uang agar tak menjebolkan gol ke gawang lawan. “Saya ditawari uang sama manajemen supaya tidak cetak gol. Saya saat itu mengambil uangnya, itu lantaran gaji saya kira-kira empat bulan enggak dibayar. Tapi pas pertandingan, saya cetak gol,” ujarnya di acara yang dilaksanakan oleh SMecK dan Koalisi Suporter untuk Revolusi PSSI itu.
Pemain kelahiran Maluku 26 Juni 1970 ini mengungkapkan praktik suap tidak hanya melanda liga, namun juga untuk level tim nasional. Dia mengurai kejadian tahun 1997 di Sea Games. Saat Indonesia menang 3-0 dari Filipina, malah dimarahi. “Dan tahun 2000 di Libanon, ada beberapa pemain timnas yang saat itu Indonesia kalah 3-0 dari China malah dikasih bonus sama petinggi-petinggi, ada lima pemainlah yang dipanggil saat itu,” kenang mantan pemain South China AA.
Pencetak dua gol ke gawang AC Milan pada 31 Mei 2004, pada pertandingan persahabatan antara Kitchee FC dan AC Milan ini menilai, kasus yang terjadi di depan matanya ini, hanya sebagian kecil dari persoalan yang begitu banyak di ranah Indonesia. Untuk itu, dia memastikan bahwa suporter bisa menjadi aktor penting dalam menguak kasus suap di sepakbola.
Dia merunut bahwa suporterlah yang sangat tahu bagaimana pemain di timnya. Jika dalam pantauan suporter pemainnya selalu berlatih dan bermain dalam level 9, kemudian ada momen tertentu bermain di level 5, ini yang perlu dipertanyakan dan dibongkar. “Seorang pemain hanya bisa drop tiga kali dalam semusim, itu pun dari sembilan jatuhnya level enam, kalau sampai level lima, itu sudah tanda tanya besar. Kalau suporter sayang sama klubnya, laporkan keganjilan ini,” tutur pemain yang sempat membela tim Liga Hongkong, bersama Instant Dict ini.
Apung Widadi dari Indonesian Coruption Watch (ICW) menambahkan, kasus suap dalam sepakbola Indonesia jarang yang masuk ke ranah hukum, karena petinggi PSSI saat ini juga korup. Akses untuk menuntaskan kasus suap sering kali tidak berjalan. Padahal diakuinya, pada tahun 1980, ada kasus suap yang diproses yang menimpa PSMS, dalam sepakbola gajah yang memicu munculnya UU No 11 Tahun 1980 tentang tindak pidana suap. “Saat itu ada beberapa pemain dan pengacara pemain yang dijerat hukuman dua tahun dan denda Rp15 juta. Lalu mengapa nyaris dua puluh tahun setelah itu, jarang sekali kasus suap dalam sepakbola dijerat karena PSSInya juga cukup korup,” tuturnya.
Di sini, lagi-lagi, lanjutnya, peran suporter sangat membantu, dengan melapor ketika ada info. “Selama ini yang terjadi sulit diproses juga karena tim dan pemain juga suporter takut untuk melapor karena yang melapor jika terlibat akan mendapatkan hukuman yang lebih. Kita miris lihat negara lain, yang banyak sekali kasus suapnya, bisa diproses, pemain, pengurus disanksi,” lanjutnya.
“Yang paling penting, kelompok-kelompok suporter harus bersatu dan dinamis dalam mengangkat pemikiran-pemikiran untuk sepakbola. Teman-teman suporter bisa mendorong KPK dan Mendagri,” timpalnya.
Narasumber lainnya, Andi Peci dari Koalisi Suporter untuk Revolusi PSSI menambahkan, berharap dari hasil Kongres PSSI nanti ada perubahan yang mampu mengatasi problematika sepakbola. Sebab, diakuinya saat ini masalah dalam sepakbola belum terpecahkan. Dalam suporter sendiri adalah persoalan blok. “Suporter punya blok-blok, sehingga ketika ada problematika dalam sepakbola dan diharapkan pada revolusi sepakbola, kita juga terpecah-pecah dalam memutuskan sesuatu,” ujar suporter dari Persebaya ini.
Dalam suporter sendiri, di Indonesia masih sulit terbebas dari bentrok. Namun dia menilai bentrokan suporter terjadi bukan hanya dari diri suporter sendiri. Dia mengatakan, ada proses pembiaran agar suporter tetap bentrok, agar suporter tak lagi kritis terhadap isu sepakbola.
“Agar suporter dikandangkan, bayangkan saja kami (Bonek) harus meninggalkan pertandingan hanya karena ingin meloloskan tim Pelita, dibilanglah karena bonek,” tukasnya.
Andi menegaskan, rivalitas dalam sepakbola hal yang biasa. Namun jangan sampai ada proses pembiaran agar bentrok tetap terjadi, dan bahkan harus ada korban jiwa. “Kami sendiri sebagai suporter tahunya tim menang, namun kita enggak tahu soal praktik haram di sepakbola. Seperti tahun 2004, kita mana tahu Persebaya juara juga karena diatur, kami tahunya hanya konvoi ketika tim juara. Maka ke depannya, suporter memang harus cerdas dan memahami rivalitas itu biasa dalam sepakbola,” pungkasnya.
source: goal.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar